"Saatnya berangkat, Harry," Sirius memeluk putra baptisnya dan menepuk kepala anak lelaki berusia 11 tahun itu.
"Sirius... apa aku bisa masuk Gryffindor? Sepertimu atau Remus?" tanya anak bermata hijau cemerlang itu.
Sirius tersenyum, "aku yakin, Harry. Darah Gryffindor mengalir kental dalam tubuhmu," kata pria berambut hitam gondrong itu, "nah—ayo masuk ke kereta! Lihat, Ron sudah melambai padamu dari dalam."
Harry berpaling ke arah kereta Hogwarts Express, ada seorang anak laki-laki berambut merah sebayanya yang sudah melambai-lambai semangat. Ron Weasley, sahabatnya dari keluarga Weasley yang sudah dianggap Harry sebagai keluarga keduanya setelah Sirius, ayah baptisnya.
"Oke. Aku pergi dulu. Jangan lupa tulis surat padaku!" Harry memeluk Sirius sekilas sebelum akhirnya naik ke kereta menuju ke kompartemen dimana Ron berada.
"Lama sekali kau, Harry. Bicara apa dengan Sirius?" tanya Ron.
"Tak ada. Hanya salam perpisahan saja," Harry duduk di depan Ron. Dia lalu memandang ke luar jendela, masih dia lihat Sirius berdiri di antara para orang tua murid lain. Harry melambaikan tangan saat kereta itu mulai berjalan.
"Akhirnya kita masuk Hogwarts juga," kata Ron, "Kasihan Ginny, harus sendiri di rumah."
"Yeah, tapi tahun depan dia masuk Hogwarts juga kan?" Harry menurunkan tangannya saat sosok Sirius sudah tak terlihat lagi olehnya.
Koridor kereta masih dipenuhi anak-anak yang berlalu lalang mencari kompartemen kosong. Tak jarang di antara mereka melirik bahkan memandang Harry seperti melihat benda langka.
"Tuh kan... mulai lagi," Harry membenahi kacamatanya dan menata poninya supaya menutupi bekas luka berbentuk sambaran petir yang menjadi trademark-nya. Lambang yang menjadi bukti nyata kejatuhan penyihir terkejam sepuluh tahun yang lalu.
Ron terkekeh, "rasakan! Itu akibatnya kalau jadi orang terkenal."
"Bukan mauku!" Harry kali ini sebal benar pada rambutnya yang susah ditata, tapi dia tidak bisa protes, karena itu adalah mutlak berasal dari gen ayah kandungnya yang juga berambut hitam berantakan sepertinya.
"Terima nasib saja, Harry. Seluruh orang di dunia sihir tahu siapa kau. The-Boy-Who-Live. Kau mengalahkan Voldemort, Harry. Dan itu saat kau masih bayi," tetap saja ada nada kagum dari Ron meski Harry sudah sering mendengarnya bicara seperti itu sejak pertama mereka bertemu empat tahun lalu.
Harry tak mau berkomentar, karena dia sendiri tidak pernah mengerti, kenapa bisa, dia yang cuma bocah berusia satu tahun bisa menghindar dari kutukan kematian bahkan membuat kutukan itu memantul pada perapalnya yang tak lain adalah Voldemort sendiri dan akhirnya binasa karena serangan yang berbalik arah itu.
Saat koridor mulai sepi, ada seorang anak lelaki yang berdiri di pintu kompartemen mereka. Harry dan Ron memandang sosok berambut pirang platimun, berkulit pucat dan bermata keabuan itu. Dari pakaian yang dia kenakan, bisa diketahui dengan pasti kalau dia berasal dari keluarga berada.
"Keberatan kalau aku di sini? Yang lain sudah penuh," kata anak laki-laki itu.
"Ya, tak masalah. Masuklah!" Harry menggeser duduknya.
Anak itu meletakkan tasnya di rak atas dan duduk di sebelah Harry, "namaku Malfoy. Draco Malfoy."
"Hai. Aku Potter. Harry Potter. Dan ini Ronald Weasley."
Anak itu tak tampak terkejut mendengar nama Harry Potter, membuat yang bersangkutan bingung, tapi senang.
"Malfoy... tunggu dulu. Kau bukan anaknya Lucius Malfoy, kan?" Ron memandang Draco dengan was-was.
"Dia ayahku. Dan ku harap kau tidak menilaiku seperti kau menilai ayahku," Draco tampaknya sedikit tersinggung, membuat Ron tutup mulut dan memandang ke arah lain.
Harry memandang sosok anak itu. Baru kali ini dia bertemu dengan orang yang tidak memandangnya dengan begitu antusias setelah mendengar namanya.
Sejenak suasana hening, Harry mencoba mengajak Draco berbincang, tapi anak laki-laki itu hanya diam dan memilih untuk membaca buku. Harry menyerah dan akhirnya ngobrol dengan Ron tentang asrama-asrama di Hogwarts.
"Mum benar-benar akan membunuhku kalau aku sampai tidak masuk Gryffindor," kata Ron, "tapi entahlah... aku tak begitu yakin."
"Aku juga ingin masuk Gryffindor. Dulu Sirius, Remus, Dad juga Mum ada di asrama itu," kata Harry, "bagaimana denganmu, Draco? Kau ingin masuk asrama mana?"
Saat itu Draco menoleh pada Harry dan Ron, "... mana pun selain Slytherin."
"Kenapa?" tanya Harry.
"Aku hanya tidak suka berada dalam genggaman Dad meski aku sedang bersekolah," Draco menutup bukunya, "dan ku harap aku bisa masuk Gryffindor. Ingin lihat wajahnya kalau tahu aku masuk asrama yang paling tidak dia sukai itu."
Harry dan Ron melongo saking terkejutnya mereka. Ron apalagi. Dia tahu benar reputasi keluarga Malfoy dari ayahnya yang bekerja di Kementrian. Keluarga Malfoy dulu dikenal sebagai pengikut setia Voldemort, yang tak diragukan lagi, adalah seorang Death Eater, para prajurit kepercayaan Voldemort di masa perang dulu. Keluarga Malfoy juga terkenal sebagai penganut setia sihir hitam. Keluarga aristrokat yang memiliki koneksi kuat dengan pemerintah dunia sihir, yang membuat mereka lolos dari jerat hukum.
"Wow... ini menakjubkan," kata Ron, "sorry nada bicaraku tadi."
"Tak masalah," kata Draco.
Obrolan terpaksa berhenti karena trolly makan sudah datang. Harry pun segera membeli beberapa cemilan untuknya dan untuk Ron juga. Bukannya bermaksud sombong, tapi Harry sudah menganggap Ron dan saudara-saudaranya seperti saudara kandungnya juga. Keluarga Weasley, meski mereka bukan termasuk golongan kelas atas, selalu baik pada Harry, menjamunya setiap kali dia menginap di The Burrow. Mr dan Mrs Weasley pun sayang padanya, tak segan marah padanya kalau dia salah. Itu kenapa Harry ingin membagi semua keberuntungannya pada keluarga itu.
Selesai membeli pengganjal perut sampai saatnya mereka tiba di Hogwarts, mereka pun kembali mengobrol. Tapi belum lagi lama, obrolan itu terputus karena kali ini ada tiga orang yang datang ke kompartemen mereka. Dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan.
"Malfoy... kami mencarimu kemana-mana. Kenapa kau malah ada di sini?" si anak perempuan bertanya dengan suara manja yang jelas dibuat-buat.
"Bukan urusanmu aku duduk dimana, Parkinson. Jadi lebih baik kau pergi," kata Draco dingin, "dan bawa dua bodyguardmu itu!"
Si cewek tampak tersinggung, "oh baiklah. Toh nanti kita duduk satu meja di Aula Besar. Bye, Dray."
Draco segera menutup pintu kompartemen begitu trio menyebalkan tadi pergi dan duduk lagi. Wajahnya kelihatan kesal.
"Siapa dia, Draco?" tanya Harry yang sedang membuka bungkus coklat kodok.
"Pansy Parkinson dan dua pengawalnya. Vincent Crabbe dan Gregory Goyle. Orang tua mereka teman baik orang tuaku, tapi mereka menyebalkan."
"Yeah... kelihatan kok dari tampangnya," kata Ron.
Dan belum lagi obrolan mereka berlanjut, muncul seorang anak cewek lain. Rambutnya coklat lebat dan dia sudah mengenakan seragam Hogwarts.
"Apa kalian melihat seekor katak?" tanyanya dengan nada yang sedikit terdengar sok, "anak bernama Neville kebingungan sejak tadi."
Ketiga anak laki-laki dalam kompartemen itu serempak menggeleng.
Cewek itu menghela nafas pasrah, "uh... okay kalau kalian tidak tahu," katanya, "tapi lebih baik kalian segera memakai jubah kalian, kita akan segera sampai," dia pun berbalk dan segera pergi.
"Apa semua anak cewek itu menyebalkan?" tanya Ron entah pada siapa.
Akhirnya mereka sama sekali tidak mengobrol lagi karena baru beberapa menit setelah mereka berganti pakaian, kereta pun berhenti. Maka bersama yang lain, mereka pun turun dari kereta.
"Itu Hagrid. Kata Sirius dia gamekeeper di Hogwarts," Harry memandang sosok yang luar biasa besar yang sedang mengatur anak-anak baru, termasuk mereka.
"Ya. Fred dan George bilang dia orang yang baik," sahut Ron.
Mengikuti rombongan anak kelas satu, mereka bertiga pun sampai ke danau dimana ada puluhan perahu menanti. Seruan kagum berkumandang saat melihat sosok kastil megah yang ada di sebrang danau itu. Kastil Hogwarts, tempat mereka akan mempelajari dan melatih kemampuan sihir mereka selama tujuh tahun ke depan. Hagrid lalu mengomando supaya satu perahu tak lebih dari empat orang. Sedikit heboh, semua buru-buru menaiki perahu itu.
"Boleh aku ikut kalian?"
Harry, Ron dan Draco menoleh dan mendapati anak cewek berambut coklat tadi di belakang mereka.
"Yang lain sudah penuh," kata anak perempuan itu.
"Tentu," lagi-lagi Harry yang memberi izin seolah mewakili temannya, "ayo, nanti kita terlambat.
Setelah semua naik ke perahu itu, mendadak seluruh perahu bergerak bersamaan membentuk armada dan menuju ke arah kastil itu.
"Aku Hermione Granger. Siapa nama kalian?" tanya anak perempuan itu.
Ketiga anak laki-laki itu pun memperkenalkan diri, dan Harry –sudah biasa- melihat Hermione memandangnya penuh minat.
"Jadi kau Harry Potter? Aku mendengar banyak tentangmu. Aku kelahiran muggle, tapi saat menerima surat dari Hogwarts, aku pun langsung mempelajari segala sesuatu tentang sihir. Dan aku mendengar banyak tentangmu saat aku beli tongkat di Mr Ollivander," ujar Hermione panjang lebar dan dia tidak berhenti sampai di situ, Hermione malah sibuk mengira-ngira kalau nama Harry pasti akan masuk dalam sejarah baru dunia sihir sebagai anak yang mengalahkan Pengeran Kegelapan.
Ron mati-matian berusaha supaya tidak tertawa sedangkan Draco tetap memasang wajah dingin tak terbaca.
Iringan kapal itu lalu masuk kedalam semacam gua buatan dan berhenti di dermaga yang ada di bawah kastil. Hagrid –yang naik perahu paling depan- turun dan mengatur barisan sebelum mengantar mereka ke lantai atas tempat upacara awal tahun ajaran akan dilaksanakan. Setelah menyuruh agar tak seorang pun pergi, Hagrid pun meninggalkan tempat itu.
Setelah menunggu beberapa menit, pintu besar di hadapan para anak kelas satu itu pun terbuka dan muncullah seorang wanita paruh baya berwajah tegas. Ia memperkenallkan diri sebagai Profesor McGonagall, yang akan mengajari mereka Transfigurasi. Setelah menjelaskan sedikit tentang Hogwarts dan keempat asramanya, ia pun membimbing para murid baru itu memasuki Aula Besar di mana seluruh siswa sudah duduk sesuai dengan asrama mereka.
Acara berlanjut dengan seleksi asrama. Topi Seleksi menyanyikan lagu khas yang menceritakan para pendiri Hogwarts dan juga kualifikasi asrama-asrama di sekolah sihir ini. Setelahnya, barulah seleksi dimulai.
Harry tampak gelisah, lalu dia mencoba mengalihkan perhatiannya ke arah meja guru. Dia melihat kepala sekolah yang disegani banyak orang, Albus Dumbledore, pria tua dengan pancaran wibawa dari seluruh tubuhnya dan memakai kacamata berbentuk bulan sabit. Jenggotnya yang keperakan tampak seolah bersinar.
Lalu pandangan Harry beralih pada guru lain, Remus Lupin, pria berambut coklat dan berwajah ramah. Harry akrab sekali dengan guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam ini karena dia adalah sahabat baik Sirius, juga kedua orang tuanya, dan Remus pun sering menghabiskan liburan di Grimmauld Place nomor dua belas –rumah Sirius-. Remus menyadari pandangan Harry dan dia pun tersenyum pada anak laki-laki itu.
Pandangan Harry beralih pada guru lain yang dia kenal. Severus Snape. Meski tak kenal secara pribadi, tapi Sirius sering cerita padanya kalau yang bernama Severus Snape adalah orang yang tidak tepat untuk dijadikan teman. Harry tak begitu yakin kata-kata ayah baptisnya itu. Ya... Harry pernah beberapa kali bertemu dengan Profesor itu saat ada rapat orde di rumah Sirius yang masih dijadikan markas untuk Orde Phoenix yang sampai sekarang masih terus memburu sisa-sisa pendukung Voldemort. Meski Voldemort sendiri telah tumbang, tapi anak buahnya, para Death Eaters, masih banyak yang berkeliaran dengan bebas di luar sana dan menyebabkan banyak kekacauan.
Kenyataan kalau Snape adalah anggota orde membuat Harry berpikir kalau tak mungkin orang jahat akan membantu menangkapi para Death Eaters kan? Hanya saja Remus pernah bilang pada Harry kalau hubungan Sirius dan Snape yang tidak terlalu baik seperti itu sudah dimulai sejak jaman mereka sekolah dulu, jadi Harry memilih untuk tidak terlalu percaya pada penilaian Sirius terhadap Snape, karena dia tahu benar kalau walinya itu tipe yang lebih cepat mendapat musuh daripada mendapat teman.
"Malfoy, Draco."
Lamunan Harry buyar saat mendengar nama itu diserukan lantang oleh Profesor McGonagall. Dia pun mengalihkan pandangannya pada sosok Draco yang kini duduk di kursi dan membiarkan Profesor McGonagall memakaikan topi seleksi itu di kepalanya. Cukup lama topi itu menimbang-nimbang, hingga akhirnya dia berseru, "Gryffindor!"
Harry melihat wajah Draco tampak puas dan lega. Dia memandang sekilas pada Harry sebelum menuju ke meja Gryffindor yang para seniornya berdiri menyambutnya. Harry baru sadar kalau Hermione juga ada di Gryffindor. Dia melewatkan hampir separuh seleksi. Saat itu dia menoleh ke meja Slytherin, seperti dugaannya, meja itu hening, wajah-wajah di sana tampak heran melihat Draco... seorang Malfoy... ada di Gryffindor. Entah kenapa, itu membuat Harry tersenyum senang.
"Potter, Harry."
Bagai ada ratusan lebah dalam ruangan itu saat Harry maju dan duduk di kursi. Topi Seleksi dipasangkan di kepalanya. Cukup singkat, karena Topi Seleksi memutuskan Harry bergabung dengan Gryffindor. Sorak-sorai meja Gryffindor memenuhi ruangan itu. Harry memandang sekilas ke meja guru lagi dan melihat sang kepala sekolah dan juga Remus tersenyum dan bertepuk tangan senang padanya. Harry pun segera bergabung di meja panjang Gryffindor dan duduk di sebelah Draco.
"Selamat datang, Harry!" seru Fred dan George, kakak kembar Ron, favorit Harry karena lelucon-lelucon mereka. Percy, kakak si kembar, menjabat tangan Harry dengan resmi. Kegembiraannya bertambah saat Ron pun masuk ke Gryffindor.
Akhirnya acara seleksi pun selesai dan dilanjutkan dengan sambutan kepala sekolah yang cuma terdiri dari dua patah kata : selamat makan. Meja-meja panjang di aula itu pun langsung dipenuhi oleh berbagai hidangan yang menggugah selera. Mulai hidangan pembuka sampai aneka cake dan pai.
Puas dengan hidangan makan malam, ditambah lagi rasa lelah dan mengantuk setelah menempuh perjalanan jauh, Harry pun menguap. Sepertinya bukan hanya dia saja, nyaris setiap anak kelas satu Gryffindor tampak sudah menahan kantuk. Dia hanya menemukan satu orang yang sepertinya masih dalam kondisi prima meski hari sudah larut, siapa lagi kalau bukan Draco?
"Heran... kenapa mukanya masih bisa segar begitu, ya? Ini kan sudah malam sekali," batin Harry.
Kepala sekolah sepertinya melihat kalau anak-anak kelas satu sudah tidak kuat lagi untuk duduk dan pasti ingin segera tidur di kamar asrama mereka, maka ia pun membubarkan pesta awal tahun ajaran ini dan meminta para prefek untuk mengantar adik kelas mereka ke asrama...
.
.
Dua minggu berlalu dengan cepat. Harry sudah akrab dengan sebagian besar penghuni asrama Gryffindor. Dia memang anak yang supel dan mudah bergaul dengan orang yang baru dia kenal. Mungkin sifatnya menurun dari almarhum ayahnya yang menurut Sirius, memang orang yang cepat sekali menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Dengan teman-teman seangkatannya yang baru dia juga akrab sekali. Ada Neville yang lugu dan ceroboh, lalu Dean Thomas yang suka bercanda. Tapi Harry sangat akrab sekali dengan Ron –pastinya- dan juga Draco. Dia dan Malfoy muda itu ternyata banyak sekali memili kesamaan. Seperti Quidditch, juga pelajaran favorit. Keduanya sangat suka Pertahanan terhadap Ilmu Hitam dan juga Ramuan. Sejak kelas pertama, Harry tahu kalau Draco sangat berbakat di ramuan. Dan sepertinya dia juga dekat dengan Profesor Snape, Harry pernah melihat Draco bicara beberapa kali dengan guru Ramuan itu.
"Aaah! Kenapa siang-siang begini harus ke Sejarah Sihir?" keluh Ron, "aku bakal tidur di sana. Lihat saja!"
"Kau ini... mau tidur di kelas kok bangga," Harry membenahi letak tasnya, "tapi—memang benar sih. Itu cocok sekali untuk jadi kelas tidur siang. Aku taruhan, yang bisa bertahan pasti cuma Hermione saja."
Ron tertawa dan Draco juga sepertinya setuju dengan kata-kata Harry.
"Kalian mengata-ngatai aku lagi, ya?" suara Hermione terdengar bersamaan dengan pukulan buku di kepala Harry.
"Ouch! Hermione! Jangan main pukul, dong!" protes Harry sambil mengusap kepalanya dan memandang satu-satunya gadis Gryffindor yang bisa akrab dengannya.
Hermione berkacak pinggang, "salah kalian yang selalu membicarakan aku."
Kau pede sekali. Siapa yang membicarakanmu?" Ron pura-pura memasang wajah polos.
"Aku dari tadi ada di belakang kalian. Jelas aku dengar apa yang kalian katakan," kata Hermione, "ya sudahlah. Malas mengurusi kalian. Sampai nanti," gadis berambut coklat mengembang itu pun mendahuli tiga anak laki-laki itu dan masuk ke kelas dimana Profesor Binns sudah menunggu.
.
Seperti yang mereka duga, kelas Sejarah Sihir memang pas untuk dijadikan pengganti waktu tidur malam mereka yang sering terpotong untuk mengerjakan tugas essay. Selesai kelas itu, Harry, Ron dan Draco menuju ke kelas Transfigurasi lalu Mantra. Dan selesailah pelajaran di hari Jum'at. Besok—adalah akhir pekan yang ditunggu.
"Akhirnya makan juga. Perutku sudah keroncongan dari tadi," Ron mengelus perutnya yang sudah berteriak-teriak minta diisi.
Harry masuk duluan ke Aula Besar lalu duduk di sisi ujung meja panjang Gryffindor, tempat favorit mereka bertiga. Saat mereka semua duduk, datanglah dua orang Slytherin. Harry tidak khawatir, karena dua orang ini juga salah satu yang akrab dengan mereka bertiga. Blaise Zabini dan Theodore Nott, teman Draco sejak kecil.
"Sepertinya hari ini kalian bertiga pulas lagi di kelas Binns," dengan cueknya Theo duduk di meja Gryffindor, Blaise juga.
"Termasuk kau, Draco."
Si pirang itu membalik piringnya, "ayolah—siapa yang tahan mendengar pelajran yang menyebalkan itu? Masih lebih bagus gaya Mum waktu membacakan cerita sebelum tidur untukku dulu."
Ron memenuhi piringnya dengan berbagai macam makanan, "aku heran, kenapa Profesor Dumbledore masih mempertahankan Binns untuk mengajar, ya?"
"Tanyakan saja langsung padanya," kata Harry cuek. Lalu dia memandang Blaise juga Theo, "kenapa diam saja, kalian tidak makan?"
"Kami makan di meja Slytherin saja," kata Theo, "Profesor Snape bisa menceramahi kami lagi kalau kami sering-sering merusuh di meja Gryffindor," katanya. Lalu dia dan Blaise pun meninggalkan meja Gryffindor dan kembali ke meja asrama mereka sendiri.
Usai makan malam, tiga Gryffindor itu langsung menuju ke ruang rekreasi asrama mereka untuk mengerjakan tugas yang keterlaluan banyaknya. Paling tidak mereka berniat menyelesaikan sebagiannya saja, jadi besok pagi mereka bisa puas bermain-main.
Sampai di ruang asrama, ternyata suasana ramai sekali, apalagi sebabnya kalau bukan karena duo si kembar Weasley yang selalu punya banyak sekali cara untuk membuat orang terpingkal-pingkal.
Draco dan Harry mengeluarkan tugas essay untuk pelajaran Ramuan, tapi tidak dengan Ron, dia memilih mengerjakan Transfigurasi dulu dan menyisakan Ramuan untuk hari minggu. Dia tidak mau membuat otaknya tambah ruwet, karena memang pelajaran Ramuan bukanlah keahliannya.
"Setelah Mamuan, lalu Pertahanan terhadap Ilmu Hitam... sedikit Mantra. Herbologi dan Transfigurasi untuk besok saja," Harry bergumam sendiri sambil menata bukunya di meja yang ada di ruang rekreasi itu.
"Lebih baik Mantra saja dulu. Pertahanan terhadap Ilmu Hitam juga tidak seberapa sulit," kata Draco yang mendengar gumaman Harry.
"Tidak. Aku lemah kalau menulis essay Mantra. Kalau langsung praktek sih oke."
"Kalian ini... katanya hanya sebagian, tapi sepertinya kalian berniat menyelesaikan semua tugas kalian sekarang," gerutu Ron.
Harry dan Draco memandang Ron, lalu tanpa bicara apa-apa, mereka berdua pun meulai mengerjakan tugas mereka. keduanya sudah hafal, kalau rasa bete Ron ditanggapi, ujung-ujungnya bakal panjang. Jadi lebih baik dibiarkan saja.
Tak lama Hermione ikut bergabung dengan mereka bersama Neville. Kalau ada Hermione di sana, semua yakin kalau tugas mereka akan cepat selesai.
Tanpa terasa waktu bergulir hingga mendekati Natal. Salju sudah menumpuk di halaman kastil dan membuat udara semakin membeku. Tapi sepertiya semangat natal sudah membuat anak-anak menganggap kalau tumpukan tugas yang makin meninggi bukanlah masalah. Termasuk Harry yang sudah sangat tidak sabar menunggu datangnya liburan natal sehingga dia bisa pulang ke Grimmauld Place. apalagi surat yang dia terima dari Sirius mengatakan kalau tahun ini Uncle Reggy-nya akan pulang dari dinasnya sebagai Auror di luar negri. Plus kemarin juga Remus bilang kalau dia akan menginap di Grimmauld Place sepanjang liburan. Rasanya ubu akan jadi natal yang meriah.
"Jadi akhirnya Regulus pulang juga?" tanya Ron pada Harry saat mereka sedang duduk santai di depan perapian.
Harry mengangguk semangat, "tahun ini natal pasti akan ramai sekali. Kalian sekalian saja merayakannya di Grimmauld Place. sudah lama sekali. Biasanya selalu aku yang main ke The Burrow."
"Aku akan coba bujuk Mum. Semoga dia mau," kata Ron.
"Kau bagaimana, Draco?" tanya Harry pada sobat pirangnya yang sedang memakan coklat kiriman dari ibunya, "liburan natal ini kau pulang?"
Draco mengangkat bahunya, "entahlah. Belum aku putuskan. Kalau Dad masih tetap mengomel, aku sepertinya lebih memilih tetap di Hogwarts saja."
Harry dan Ron saling berpandangan, "... Apa ayahmu segitu marahnya karena kau masuk Gryffindor?" tanya Harry ragu, takut menyinggung Draco.
"Masalah asrama sudah lewat. Yeah—Dad sempat berceramah panjang lebar di suratnya, tapi setidaknya dia tidak mengirimi aku howler. Lagipula dia tidak bisa merubah keputusan Topi Seleksi."
"Jadi—apa masalahnya sekarang?" tanya Ron.
Draco menghabiskan gigitan terakhir coklatnya, "hanya masalah perjodohan aja."
Mendengar itu, Harry dan Ron langsung melongo, tidak percaya pada pendengaran mereka sendiri, "Ap— apa? Perjodohan?" tanya Harry, memastikan kalau dia dan Ron tidak salah dengar.
"Well— tidak perlu kaget. Wajar kan kalau di keluarga kuno seperti keluargaku masish memegang tradisi yang kuno juga. Makanya aku jadi malas pulang," Draco membuang bungkus coklatnya ke tempat sampah, "lebih baik merayakannya di Hogwarts, sudah sepi... tenang pula. Pasti cuma sedikit anak saja kan yang tinggal?"
Harry menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, "err... aku memang seringd dengar sih tradisi perjodohan seperti itu. Tapi kau kan masih sebelas tahun. Masa iya sudah dijodohkan."
Saat itu Ron menyela, "jangankan umur sebelas, umur delapan tahun saja sudah sering dijodohkan. Dad dulu sering sekali cerita tentang tradisi itu. Untung saja keluargaku tidak meneruskannya."
"Aku juga. Untung saja Sirius tidak berniat menjodohkan aku dengan siapa pun. Malas sekali rasanya kalau terikat dengan cewek sekarang."
"Makanya itu aku tidak mau pulang," kata Draco, "pesta natal biasanya dipakai Dad untuk memperkenalkan aku pada gadis yang entah dari keluarga mana."
Lagi-lagi Harry dan Ron saling bertukar pandang.
"... Bagaimana kalau tahun ini kau rayakan natal bersama kami di Grimmauld Place?" ajak Harry.
Draco memandang si kacamata berambut berantakan itu, "di rumahmu? Tapi— apa tidak masalah?"
Harry nyengir, "tenang, tambah satu dua orang lagi juga aku yakin Sirius tidak keberatan. Lagipula akan ramai sekali. Nanti keluarga Weasley juga akan datang semua. Iya kan, Ron?"
Yang ditanya pun mengangguk, "datang saja. Pasti asik."
"Aku juga rencana mau mengundang Hermione. Semoga saja dia mau menaruh bukunya sebentar dan menikmati pesta."
"Aku ragukan itu," kata Draco yang membuat dua anak laki-laki lainnya tertawa.
Sehari menjelang liburan natal, Draco mendapat surat dari ibunya. Kemarin dia memang mengirim kabar kalau tahun ini dia ingin memenuhi undangan Harry untuk menghadiri pesta natal di Grimmauld Place. Narcissa, ibu Draco, adalah sepupu dari Sirius, jelas saja dia tidak keberatan. Tapi Narcissa minta supaya putranya itu pulang dulu ke rumah. Dia juga menambahkan kalau Lucius, meski secara tidak lugas, sering menanyakan apa Draco akan pulang atau tidak.
Draco pun segera menulis balasan yang mengatakan dia akan pulang dan cuma menginap sehari di Grimmauld Place.
"Jadi... diizinkan?" tanya Harry setelah Draco menyuruh burung hantu elangnya terbang pergi.
"Mum bilang tidak ada masalah. Dia justru senang kalau aku mau bergaul dengan keluarga Black. Mum dan walimu Sirius kan sepupu. Dad juga sepertinya sudah luluh. Entah apa yang Mum katakan pada Dad sampai akhirnya dia setuju kalau aku boleh merayakan natal di rumah temanku.
Harry nyengir dan memotong roti di piringnya, "aku juga sudah mengundang Blaise dan Theo. Apa kira-kira mereka bisa datang, ya?"
"Ku rasa pasti bisa. Theo paling suka merayakan pesta ramai-ramai dengan temannya dibanding dengan keluarganya. Sejak dulu begitu. Blaise juga sama saja," Draco menghabiskan jus labu di gelasnya dan mengisinya lagi. Sekilas dia memandang Ron yang sedang menyantap sarapannya persis seperti orang yang tidak makan seminggu.
"Regulus juga sudah pulang. Ah... setahun lebih tidak melihatnya," Harry menghabiskan sisa rotinya, "rindu mendengar dia bertengkar dengan Sirius."
Draco memandang Harry heran, "memang mereka tidak akur?"
"Tidak. Malah akrab banget," Harry meminum sedikit jus labu sebelum kembali bicara, "kalau mereka sedang bertengkar, justru tandanya akrab. Kalau saling diam, itu berarti sedang marahan. Mereka memang selalu begitu."
"Aneh." Komentar Draco singkat.
Tak bicara lebih banyak lagi, mereka pun menghabiskan makan pagi mereka dan bersiap mengikuti pelajaran hari ini. Harr sungguh sudah tidak sabar menunggu datangnya esok.
Stasiun King's Cross London peron 9 ¾ penuh oleh para orang tua dan wali murid yang datang untuk menjemput putra-putri mereka yang akan pulang untuk merayakan natal di rumah. Harry berlum menemukan sosok Sirius, jadi dia ikut dengan Ron menghampiri Mr dan Mrs Weasley, orang tua Ron, dan juga Ginny, adik Ron.
"Harry, senang melihatmu sehat-sehat saja, nak," Molly Weasley memeluk dan mencium pipi Harry, "dan terima kasih atas untdangan natalnya. Kami semua pasti datang. Bill dan Charlie juga akan pulang tahun ini."
"Sungguh? Sudah lama sekali tidak bertemu mereka," seru Harry semangat, "ka juga pasti senang kan, Ginny?"
Gadis kecil itu tersenyum dan mengangguk semangat.
Menunggu Fred, George dan Percy; Harry pun memandang ke sekeliling dan masih belum menemukan sosk wali kesayangannya. Dan saat itu dia melihat Draco ada tak jauh darinya. Bersama ayah dan ibunya. Harry yakin karena Draco mirip sekali dengan pria yang berdiri di sampingnya. Merasa tidak sopan kalau mengundang anaknya tapi tidak memberi salam, akhirnya Harry berpamitan sebentar pada keluarga Weasley dan menghampiri keluarga Malfoy.
"Selamat malam, Mr Malfoy, Mrs Malfoy," sapa Harry formal.
Dua Malfoy dewasa itu memandang anak laki-laki berkacamata yang menyapa mereka.
"Selamat malam. Aku yakin kau adalah Mr Potter," sapa Mrs Malfoy, "aku Narcissa dan ini Lucius, suamiku. Terima kasih kau sudah mengundang Draco ke pesta natalmu."
Harry tersenyum, "suatu kehormatan bagi saya, Mrs Malfoy."
Narcissa tersenyum, "tidak usah terlalu kaku, dear. Kau boleh memanggilu Aunt Cissy. Teman-teman Draco yang lain juga selalu memanggilku begitu."
Lagi-lagi Harry tersenyum, tapi kali ini tidak bicara. Sebenarnya dia lumayan kaget, dia pikir keluarga Malfoy akan sangat kaku, well... tidak bersahabat. Tapi ternyata Narcissa sama seperti ibu lainnya. Meski Mr Malfoy wajahnya lumayan menakutkan.
Sebelum Harry ditanyai macam-macam, Draco menyeret Harry agak menjauh, "kau belum dijemput?"
"Mungkin sebentar lagi. Paling Sirius dan Regulus bertengkar dulu untuk memutuskan makan di rumah atau di restoran." Kata Harry, "kau mau pulang sekarang?"
Draco mengangguk, "aku akan datang pagi di Harry natal. Tidak masalah, kan? Aku tidak mau Dad merecoki aku terus supaya tetap di rumah."
"Tentu saja. Ron dan keluarganya sudah datang sehari sebelum natal kok. Aku akan menunggumu," kata Harry semangat.
Dan setelahnya dia pun membiarkan Draco pergi duluan bersama keluarganya. Harry kembali pada keluarga Weasley dan tak lama akhirnya Sirius dan Regulus muncul juga.
"Hai, maaf kami terlambat," kata Sirius, nyengir seperti biasa.
Harry pura-pura berwajah kesal, "untung saja aku tidak ikut keluarga Weasley ke The Burrow," katanya.
Mendengar itu, Sirius hanya tertawa.
Lalu Harry memandang Uncle rReggy-nya, yang kalau sekarang Harry panggil dia begitu pasti akan langsung marah-marah, "hai, Regulus. Senang akhirnya kau pulang juga," Harry memeluk pria di samping Sirius itu.
"Hai, cub. Rupanya setahun ini kau tambah tinggi, ya?"
Harry pura-pura kesal lagi, "jangan panggil aku cub terus! Aku sudah besar! Lagipula pantasnya kan fawn, bukan cub!"
Regulus tersenyum, mengacak rambut Harry yang sudah berantakan, "habis, sejak kau lahir, Sirius yang lebih memanjakanmu dari pada si Prongs."
Kemudian Harry pun berpamitan dengan keluarga Weasley dan pergi bersama dua orang yang telah merawatnya sejak kecil itu. Regulus dan Sirius membantunya membawakan barangnya dengan mantra pengecil, jadi tidak repot. Hedwig, burung hantu putih peliharaan Harry sudah dikirim terbang duluan ke Grimmauld Place.
"Jadi... hari ini makan di rumah atau di restoran?" tanya Harry.
Sirius menepuk kepala Harry, "kau selalu saja tahu apa yang kami ributkan, ya?"
"Tentu saja. Setiap keluar bertiga dulu, sebelum berangkat kalian pasti heboh mau makan di mana," kata Harry.
"Dia yang mulai duluan," kata Regulus, "tapi hari ini kita makan di rumah. Remus sudah datang sejak tadi. Mana mau Sirius meninggalkannya sendiri."
Harry tertawa. Dia sangat suka dengan kedua Black ini. Selalu saja ada cara untuk meramaikan suasana. Sayang dulu Regulus tidak ikut jadi anggota Marauder, kalau iya, Harry yakin separo Hogwarts pasti runtuh karena ulah mereka.
welcome to my new site...here we'll see some my favorites..do u know?i trust u do.... uhm well it's so precious for me,,beside my husband,my famz and also Gfamz,i just wanna describe my thought... dont force me to leave my mind cz i won't sepparated from it all.. so check out this and u will remind that I'M HARRY POTTER LOVER ALL OF TIME WHICH I HAVE.. EXPELLIARMUS!!!!
Cari Blog Ini
Rabu, 30 Juni 2010
Hogwarts in our heart XD
"Hogwarts,Hogwarts,Hoggy Warty Hogwarts,
Ajarilah kami sesuatu, Biar kami tua dan botak,
Atau muda dan masih lugu,
Kepala kami kosong melompong
Masih perlu banyak diisi,
Dengan hal-hal menarik dan berguna,
Agar kami jadi orang berarti,
Ingatkanlah kembali hal-hal yang telah kami lupakan,
Dan ajarilah kami segala yang perlu diketahui,
Bimbinglah kami sebaik-baiknya,
Kami akan belajar sepenuh hati."
Ajarilah kami sesuatu, Biar kami tua dan botak,
Atau muda dan masih lugu,
Kepala kami kosong melompong
Masih perlu banyak diisi,
Dengan hal-hal menarik dan berguna,
Agar kami jadi orang berarti,
Ingatkanlah kembali hal-hal yang telah kami lupakan,
Dan ajarilah kami segala yang perlu diketahui,
Bimbinglah kami sebaik-baiknya,
Kami akan belajar sepenuh hati."
Harry Potter And The Deathly Hallows story....
Buku ketujuh diawali dengan Voldemort dan para Pelahap Mautnya di rumah Lucius Malfoy,
yang merencanakan untuk membunuh Harry Potter sebelum ia dapat
bersembunyi kembali. Meminjam tongkat sihir Lucius, Voldemort membunuh
tawanannya, Profesor Charity Burbage, guru Telaah Muggle di Hogwarts,
atas alasan telah mengajarkan subyek tersebut dan telah menganjurkan
agar paradigma kemurnian darah penyihir diakhiri.
Harry telah siap untuk melakukan perjalanannya dan membaca obituari Albus Dumbledore;
dan terungkaplah bahwa ayah Dumbledore, Percival, adalah seorang
pembenci non-penyihir dan telah menyerang tiga Muggle, dan meninggal di
Penjara Azkaban
atas kejahatannya. Harry kemudian meyakinkan keluarga Dursley bahwa
mereka harus segera meninggalkan rumah mereka untuk menghindarkan diri
dari para Pelahap Maut. Keluarga Dursley kemudian pergi menyembunyikan
diri dengan dikawal sepasang penyihir setelah sebelumnya Dudley
melontarkan pengakuan bahwa ia peduli akan Harry.
Bersama-sama dengan anggota Orde Phoenix, Harry kemudian pergi dari rumah Dursley ke The Burrow. Dalam perjalanan itu, Hedwig, burung hantu Harry, terbunuh oleh kutukan pembunuh; George Weasley kehilangan sebelah telinganya akibat mantra Sectumsempra; Mad-Eye Moody
dibunuh oleh Voldemort sendiri. Harry sendiri lolos ketika Voldemort
mengejarnya setelah tongkat sihirnya bereaksi dengan sendirinya dengan
tongkat sihir pinjaman Voldemort, menghancurkannya, dan ia juga
kemudian mendapatkan penglihatan ketika Voldemort menanyai Ollivander
si pembuat tongkat sihir, mengenai mengapa hal itu dapat terjadi.
Beberapa hari kemudian, Menteri Sihir tiba di kediaman Weasley dan memberikan warisan Dumbledore untuk mereka: Deluminator
untuk Ron (alat seperti korek api yang dapat memadamkan cahaya); buku
mengenai kisah anak-anak untuk Hermione; dan untuk Harry, pedang Godric Gryffindor dan snitch
pertama yang ditangkap Harry. Namun demikian, pedang tersebut ditahan,
karena menurut kementerian pedang tersebut bukanlah milik Dumbledore.
Ketiganya berusaha mencari tahu apa dibalik ketiga benda yang diberikan
kepada mereka itu. Sehari kemudian adalah hari pernikahan Fleur
Delacour dan Bill Weasley.
Setelah diberitakan bahwa Voldemort telah berhasil mengambil alih Kementerian Sihir; Harry, Ron, dan Hermione kemudian bersembunyi di Grimmauld Place nomor 12, rumah yang diwariskan Sirius Black kepada Harry. Ketiganya kemudian menyadari bahwa inisial R.A.B.
pada liontin yang didapatkan Dumbledore dan Harry dalam buku keenam
adalah Regulus Arcturus Black, adik Sirius. Mereka mulai mencari
Horcrux yang dicuri Regulus di rumah keluarga Black itu. Dari Kreacher,
mereka mengetahui bahwa ia telah membantu Regulus untuk mendampingi
Voldemort menempatkan Horcrux berbentuk liontin itu di gua. Ketika
Regulus merasa kecewa dengan Voldemort, ia memerintahkan Kreacher untuk
kembali ke gua dan menukar liontin dengan yang palsu. Regulus terbunuh
dalam proses itu. Pada akhirnya, mereka bertiga menyadari bahwa Mundungus Fletcher telah mencuri liontin tersebut dan kemudian dirampas oleh Dolores Umbridge.
Setelah selama satu bulan memata-matai Kementerian Sihir, ketiganya
berhasil mengambil Horcrux dari Umbridge. Dalam prosesnya, tempat
persembunyian mereka diketahui dan terpaksa melarikan diri ke daerah
terpencil, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan tidak dapat
lama tinggal di suatu tempat.
Dalam waktu beberapa bulan berpindah-pindah, mereka mendengar bahwa
pedang Godric Gryffindor sebenarnya adalah palsu, dan ada yang
melakukan sesuatu terhadap pedang aslinya. Dari Phineas Black, Harry
mendapatkan bahwa pedang itu terakhir kali digunakan Dumbledore untuk
menghancurkan salah satu Horcrux, Cincin Gaunt. Ron kemudian berselisih
paham dengan Harry, dan pergi meninggalkan Harry dan Hermione. Harry
dan Hermione kemudian pergi ke Godric's Hollow untuk mencari tahu apakah Dumbledore telah meninggalkan pedang itu di sana.
Di Godric's Hollow, keduanya mengunjungi tempat pemakaman keluarga
di mana keluarga Potter dan Dumbledore dikuburkan. Di Godric's Holow,
mereka juga menemui Bathilda Bagshot,
seorang teman lama Dumbledore yang mengarang buku Sejarah Sihir. Di
rumah Bagshot mereka menemukan gambar penyihir hitam Grindelwald, sanak
Bagshot, yang pada masa lalu adalah kawan masa kecil Albus Dumbledore.
Namun demikian, ternyata mereka terperangkap, karena "Bagshot" itu
merupakan penjelmaan ular Voldemort, Nagini. Mereka berhasil melarikan diri dari Voldemort, tetapi tongkat sihir Harry hancur dalam kejadian itu.
Dalam pelarian mereka, Harry akhirnya menemukan bahwa pedang Godric
Gryffindor tersembunyi di sebuah kolam beku di tengah sebuah hutan
berkat bantuan patronus berbentuk kijang. Dia menyelam ke dalamnya
untuk mendapati pedang tersebut. Kalung Horcrux mencoba mencekik Harry
dan hampir menenggelamkannya hingga mati kalau tidak ditolong oleh Ron
yang kembali. Keduanya menghancurkan Horcrux dengan pedang itu.
Ketiganya kemudian berbicara kepada Xenophilius Lovegood, ayah Luna Lovegood,
dan menanyakan kepada mereka mengenai lambang Grindelwald yang telah
berkali-kali muncul selama perjalanan mereka. Di rumah Lovegood, Harry,
Ron, dan Hermione mendapatkan kisah penyihir kuno mengenai tiga
bersaudara yang mengalahkan kematian, dan masing-masing mendapatkan
benda sihir sebagai hasilnya - tongkat sihir yang tak terkalahkan (Elder Wand—tongkat sihir tetua), batu sihir yang dapat menghidupkan kembali yang telah mati (Resurrection Stone—batu
kebangkitan), dan Jubah Gaib (jubah tembus pandang) yang tidak lekang
oleh waktu. Harry menyadari bahwa jubah yang dimilikinya adalah adalah
Jubah Gaib, dan segera menemukan bahwa Lovegood telah berkhianat dan
menyerahkan mereka ke Kementerian. Luna, putrinya, telah ditawan dan
Xenophilius berpikir untuk menyerahkan Harry Potter sebagai ganti
tawanan. Ketiganya meloloskan diri dan berpikir untuk mengumpulkan
ketiga benda sihir Deathly Hallows, untuk mengalahkan Voldemort.
Harry, Ron, dan Hermione kemudian tertangkap oleh kelompok Snatcher
yang diketuai oleh Fenrir Greyback, karena menyebut nama Voldemort
(nama itu sudah dimantrai untuk mendeteksi para penyebutnya) dan dibawa
ke rumah Malfoy. Di sana, Hermione disiksa dan diinterogasi oleh Bellatrix Lestrange
untuk mengetahui bagaimana mereka memperoleh pedang Godric Gryffindor,
karena ia berpikir bahwa mereka telah mencurinya dari lemari besinya di
Gringotts. Di bawah tanah, Harry dan Ron dipenjarakan bersama-sama
dengan Dean Thomas, goblin Griphook, pembuat tongkat sihir Ollivander, dan Luna Lovegood. Harry berusaha mencari pertolongan dan Dobby
muncul untuk menyelamatkannya. Dalam usaha meloloskan diri, mereka
dihadang Wormtail yang kemudian terbunuh karena tercekik oleh tangan
perak Wormtail yang dibuat Voldemort tanpa berhasil ditolong oleh Ron
dan Harry, sebagai balasan dari hutang budi dari tahun ketiga Harry di
Hogwarts. Mereka berdua kemudian menolong Hermione dengan bantuan
Dobby, yang tewas dibunuh oleh Bellatrix.
Harry dan kedua sahabatnya kemudian berusaha mencari rencana baru. Ia menanyai Ollivander mengenai Elder Wand
dan mendapati bahwa pemilik terakhirnya adalah Dumbledore. Dibantu
Griphook, Hermione menyamar sebagai Bellatrix Lestrange dan
bersama-sama Harry dan Ron memasuki lemari besi Bellatrix di Bank
Gingrott's. Di sana mereka menemukan satu lagi Horcrux, piala
Hufflepuff. Griphook kemudian mengkhianati mereka dan melarikan diri
dan membawa pedang Godric Gryffindor. Harry, Ron, dan Hermione berhasil
melarikan diri, tetapi pada saat yang bersamaan Voldemort menyadari
bahwa mereka mencari Horcrux-Horcruxnya.
Harry mendapatkan penglihatan segera setelah pelarian mereka; ia
dapat melihat melalui mata Voldemort dan mengetahui pikirannya.
Voldemort akan mendatangi tempat-tempat Horcurxnya disembunyikan dan
mengetahui bahwa mereka telah lenyap dan hancur. Secara tidak sengaja,
Voldemort mengungkapkan bahwa Horcrux terakhir berada di Hogwarts.
Ketiganya segera pergi ke Hogsmeade untuk mencari jalan masuk ke sekolah Hogwarts. Di Hogsmeade, mereka disudutkan oleh para Pelahap Maut dan diselamatkan oleh Aberforth Dumbledore. Aberforth membuka jalan terowongan ke Hogwarts di mana mereka disambut oleh Neville Longbottom.
Pada saat menyelamatkan jiwa Draco Malfoy, Harry menemukan Mahkota
Ravenclaw yang merupakan Horcrux itu tersembunyi di Kamar Kebutuhan dan
benda itu dihancurkan.
Di Shrieking Shack, mereka mendapati Voldemort membunuh Severus Snape dengan tujuan untuk menguasai kekuatan Elder Wand
kepada dirinya sendiri. Dalam keadaan sekarat, Snape memberikan
memorinya kepada Harry. Dari memori itu terungkap bahwa Snape selama
ini berada di pihak Dumbledore, didorong dengan cinta seumur hidupnya
kepada Lily Potter. Snape telah diminta Dumbledore untuk membunuh
dirinya jika situasinya mengharuskan demikian; karena bagaimanapun juga
hidupnya tidak akan lama lagi akibat kutukan yang terdapat di Horcrux
Cincin Gaunt. Selanjutnya, terungkap pula bahwa Harry adalah Horcrux
terakhir Voldemort, dan ia harus mati juga sebelum Voldemort dapat
dibunuh. Pasrah akan nasibnya, Harry mengorbankan diri dan Voldemort
melancarkan kutukan untuk membunuhnya. Kemudian Harry tersadar di
tempat yang mirip dengan stasiun King Cross, dan Dumbledore
mendatanginya. Dumbledore mengatakan bahwa Harry sebenarnya adalah
pemilik dari Deathly Hallows, dan kutukan Avada Kedavra itu malah
menghancurkan bagian dari jiwa Voldemort yang terdapat di tubuhnya.
Pada saat ini Dumbledore memberikan pilihan pada Harry, apakah dia
ingin meneruskan pada kematian, atau kembali hidup ke dunia. Harry
memilih kembali ke dunia, dan tersadar. Pada akhirnya, setelah Nagini
dibunuh oleh Neville, Voldemort kemudian terbunuh setelah mencoba
menggunakan Kutukan pembunuh Avada Kedavra terhadap Harry. Kutukan itu
berbalik menyerang Voldemort sendiri setelah Elder Wand menolak
membunuh tuannya (Harry) sendiri.
Dalam kisah di akhir buku, pada tahun 2017, 19 tahun setelah Pertempuran di Hogwarts, Harry dan Ginny Weasley
telah memiliki tiga anak bernama James, Albus Severus, dan Lily.
Neville Longbottom telah menjadi guru Herbologi di Hogwarts. Ron dan
Hermione telah memiliki dua anak bernama Rose dan Hugo. Draco Malfoy
memiliki anak bernama Scorpius. Mereka seluruhnya bertemu di stasius
kereta api King's Cross, untuk mengantar anak-anak mereka bersekolah ke
Hogwarts. Di sana diungkapkan bahwa bekas luka Harry tidak pernah sakit
lagi setelah kekalahan Pangeran Kegelapan.
yang merencanakan untuk membunuh Harry Potter sebelum ia dapat
bersembunyi kembali. Meminjam tongkat sihir Lucius, Voldemort membunuh
tawanannya, Profesor Charity Burbage, guru Telaah Muggle di Hogwarts,
atas alasan telah mengajarkan subyek tersebut dan telah menganjurkan
agar paradigma kemurnian darah penyihir diakhiri.
Harry telah siap untuk melakukan perjalanannya dan membaca obituari Albus Dumbledore;
dan terungkaplah bahwa ayah Dumbledore, Percival, adalah seorang
pembenci non-penyihir dan telah menyerang tiga Muggle, dan meninggal di
Penjara Azkaban
atas kejahatannya. Harry kemudian meyakinkan keluarga Dursley bahwa
mereka harus segera meninggalkan rumah mereka untuk menghindarkan diri
dari para Pelahap Maut. Keluarga Dursley kemudian pergi menyembunyikan
diri dengan dikawal sepasang penyihir setelah sebelumnya Dudley
melontarkan pengakuan bahwa ia peduli akan Harry.
Bersama-sama dengan anggota Orde Phoenix, Harry kemudian pergi dari rumah Dursley ke The Burrow. Dalam perjalanan itu, Hedwig, burung hantu Harry, terbunuh oleh kutukan pembunuh; George Weasley kehilangan sebelah telinganya akibat mantra Sectumsempra; Mad-Eye Moody
dibunuh oleh Voldemort sendiri. Harry sendiri lolos ketika Voldemort
mengejarnya setelah tongkat sihirnya bereaksi dengan sendirinya dengan
tongkat sihir pinjaman Voldemort, menghancurkannya, dan ia juga
kemudian mendapatkan penglihatan ketika Voldemort menanyai Ollivander
si pembuat tongkat sihir, mengenai mengapa hal itu dapat terjadi.
Beberapa hari kemudian, Menteri Sihir tiba di kediaman Weasley dan memberikan warisan Dumbledore untuk mereka: Deluminator
untuk Ron (alat seperti korek api yang dapat memadamkan cahaya); buku
mengenai kisah anak-anak untuk Hermione; dan untuk Harry, pedang Godric Gryffindor dan snitch
pertama yang ditangkap Harry. Namun demikian, pedang tersebut ditahan,
karena menurut kementerian pedang tersebut bukanlah milik Dumbledore.
Ketiganya berusaha mencari tahu apa dibalik ketiga benda yang diberikan
kepada mereka itu. Sehari kemudian adalah hari pernikahan Fleur
Delacour dan Bill Weasley.
Setelah diberitakan bahwa Voldemort telah berhasil mengambil alih Kementerian Sihir; Harry, Ron, dan Hermione kemudian bersembunyi di Grimmauld Place nomor 12, rumah yang diwariskan Sirius Black kepada Harry. Ketiganya kemudian menyadari bahwa inisial R.A.B.
pada liontin yang didapatkan Dumbledore dan Harry dalam buku keenam
adalah Regulus Arcturus Black, adik Sirius. Mereka mulai mencari
Horcrux yang dicuri Regulus di rumah keluarga Black itu. Dari Kreacher,
mereka mengetahui bahwa ia telah membantu Regulus untuk mendampingi
Voldemort menempatkan Horcrux berbentuk liontin itu di gua. Ketika
Regulus merasa kecewa dengan Voldemort, ia memerintahkan Kreacher untuk
kembali ke gua dan menukar liontin dengan yang palsu. Regulus terbunuh
dalam proses itu. Pada akhirnya, mereka bertiga menyadari bahwa Mundungus Fletcher telah mencuri liontin tersebut dan kemudian dirampas oleh Dolores Umbridge.
Setelah selama satu bulan memata-matai Kementerian Sihir, ketiganya
berhasil mengambil Horcrux dari Umbridge. Dalam prosesnya, tempat
persembunyian mereka diketahui dan terpaksa melarikan diri ke daerah
terpencil, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan tidak dapat
lama tinggal di suatu tempat.
Dalam waktu beberapa bulan berpindah-pindah, mereka mendengar bahwa
pedang Godric Gryffindor sebenarnya adalah palsu, dan ada yang
melakukan sesuatu terhadap pedang aslinya. Dari Phineas Black, Harry
mendapatkan bahwa pedang itu terakhir kali digunakan Dumbledore untuk
menghancurkan salah satu Horcrux, Cincin Gaunt. Ron kemudian berselisih
paham dengan Harry, dan pergi meninggalkan Harry dan Hermione. Harry
dan Hermione kemudian pergi ke Godric's Hollow untuk mencari tahu apakah Dumbledore telah meninggalkan pedang itu di sana.
Di Godric's Hollow, keduanya mengunjungi tempat pemakaman keluarga
di mana keluarga Potter dan Dumbledore dikuburkan. Di Godric's Holow,
mereka juga menemui Bathilda Bagshot,
seorang teman lama Dumbledore yang mengarang buku Sejarah Sihir. Di
rumah Bagshot mereka menemukan gambar penyihir hitam Grindelwald, sanak
Bagshot, yang pada masa lalu adalah kawan masa kecil Albus Dumbledore.
Namun demikian, ternyata mereka terperangkap, karena "Bagshot" itu
merupakan penjelmaan ular Voldemort, Nagini. Mereka berhasil melarikan diri dari Voldemort, tetapi tongkat sihir Harry hancur dalam kejadian itu.
Dalam pelarian mereka, Harry akhirnya menemukan bahwa pedang Godric
Gryffindor tersembunyi di sebuah kolam beku di tengah sebuah hutan
berkat bantuan patronus berbentuk kijang. Dia menyelam ke dalamnya
untuk mendapati pedang tersebut. Kalung Horcrux mencoba mencekik Harry
dan hampir menenggelamkannya hingga mati kalau tidak ditolong oleh Ron
yang kembali. Keduanya menghancurkan Horcrux dengan pedang itu.
Ketiganya kemudian berbicara kepada Xenophilius Lovegood, ayah Luna Lovegood,
dan menanyakan kepada mereka mengenai lambang Grindelwald yang telah
berkali-kali muncul selama perjalanan mereka. Di rumah Lovegood, Harry,
Ron, dan Hermione mendapatkan kisah penyihir kuno mengenai tiga
bersaudara yang mengalahkan kematian, dan masing-masing mendapatkan
benda sihir sebagai hasilnya - tongkat sihir yang tak terkalahkan (Elder Wand—tongkat sihir tetua), batu sihir yang dapat menghidupkan kembali yang telah mati (Resurrection Stone—batu
kebangkitan), dan Jubah Gaib (jubah tembus pandang) yang tidak lekang
oleh waktu. Harry menyadari bahwa jubah yang dimilikinya adalah adalah
Jubah Gaib, dan segera menemukan bahwa Lovegood telah berkhianat dan
menyerahkan mereka ke Kementerian. Luna, putrinya, telah ditawan dan
Xenophilius berpikir untuk menyerahkan Harry Potter sebagai ganti
tawanan. Ketiganya meloloskan diri dan berpikir untuk mengumpulkan
ketiga benda sihir Deathly Hallows, untuk mengalahkan Voldemort.
Harry, Ron, dan Hermione kemudian tertangkap oleh kelompok Snatcher
yang diketuai oleh Fenrir Greyback, karena menyebut nama Voldemort
(nama itu sudah dimantrai untuk mendeteksi para penyebutnya) dan dibawa
ke rumah Malfoy. Di sana, Hermione disiksa dan diinterogasi oleh Bellatrix Lestrange
untuk mengetahui bagaimana mereka memperoleh pedang Godric Gryffindor,
karena ia berpikir bahwa mereka telah mencurinya dari lemari besinya di
Gringotts. Di bawah tanah, Harry dan Ron dipenjarakan bersama-sama
dengan Dean Thomas, goblin Griphook, pembuat tongkat sihir Ollivander, dan Luna Lovegood. Harry berusaha mencari pertolongan dan Dobby
muncul untuk menyelamatkannya. Dalam usaha meloloskan diri, mereka
dihadang Wormtail yang kemudian terbunuh karena tercekik oleh tangan
perak Wormtail yang dibuat Voldemort tanpa berhasil ditolong oleh Ron
dan Harry, sebagai balasan dari hutang budi dari tahun ketiga Harry di
Hogwarts. Mereka berdua kemudian menolong Hermione dengan bantuan
Dobby, yang tewas dibunuh oleh Bellatrix.
Harry dan kedua sahabatnya kemudian berusaha mencari rencana baru. Ia menanyai Ollivander mengenai Elder Wand
dan mendapati bahwa pemilik terakhirnya adalah Dumbledore. Dibantu
Griphook, Hermione menyamar sebagai Bellatrix Lestrange dan
bersama-sama Harry dan Ron memasuki lemari besi Bellatrix di Bank
Gingrott's. Di sana mereka menemukan satu lagi Horcrux, piala
Hufflepuff. Griphook kemudian mengkhianati mereka dan melarikan diri
dan membawa pedang Godric Gryffindor. Harry, Ron, dan Hermione berhasil
melarikan diri, tetapi pada saat yang bersamaan Voldemort menyadari
bahwa mereka mencari Horcrux-Horcruxnya.
Harry mendapatkan penglihatan segera setelah pelarian mereka; ia
dapat melihat melalui mata Voldemort dan mengetahui pikirannya.
Voldemort akan mendatangi tempat-tempat Horcurxnya disembunyikan dan
mengetahui bahwa mereka telah lenyap dan hancur. Secara tidak sengaja,
Voldemort mengungkapkan bahwa Horcrux terakhir berada di Hogwarts.
Ketiganya segera pergi ke Hogsmeade untuk mencari jalan masuk ke sekolah Hogwarts. Di Hogsmeade, mereka disudutkan oleh para Pelahap Maut dan diselamatkan oleh Aberforth Dumbledore. Aberforth membuka jalan terowongan ke Hogwarts di mana mereka disambut oleh Neville Longbottom.
Pada saat menyelamatkan jiwa Draco Malfoy, Harry menemukan Mahkota
Ravenclaw yang merupakan Horcrux itu tersembunyi di Kamar Kebutuhan dan
benda itu dihancurkan.
Di Shrieking Shack, mereka mendapati Voldemort membunuh Severus Snape dengan tujuan untuk menguasai kekuatan Elder Wand
kepada dirinya sendiri. Dalam keadaan sekarat, Snape memberikan
memorinya kepada Harry. Dari memori itu terungkap bahwa Snape selama
ini berada di pihak Dumbledore, didorong dengan cinta seumur hidupnya
kepada Lily Potter. Snape telah diminta Dumbledore untuk membunuh
dirinya jika situasinya mengharuskan demikian; karena bagaimanapun juga
hidupnya tidak akan lama lagi akibat kutukan yang terdapat di Horcrux
Cincin Gaunt. Selanjutnya, terungkap pula bahwa Harry adalah Horcrux
terakhir Voldemort, dan ia harus mati juga sebelum Voldemort dapat
dibunuh. Pasrah akan nasibnya, Harry mengorbankan diri dan Voldemort
melancarkan kutukan untuk membunuhnya. Kemudian Harry tersadar di
tempat yang mirip dengan stasiun King Cross, dan Dumbledore
mendatanginya. Dumbledore mengatakan bahwa Harry sebenarnya adalah
pemilik dari Deathly Hallows, dan kutukan Avada Kedavra itu malah
menghancurkan bagian dari jiwa Voldemort yang terdapat di tubuhnya.
Pada saat ini Dumbledore memberikan pilihan pada Harry, apakah dia
ingin meneruskan pada kematian, atau kembali hidup ke dunia. Harry
memilih kembali ke dunia, dan tersadar. Pada akhirnya, setelah Nagini
dibunuh oleh Neville, Voldemort kemudian terbunuh setelah mencoba
menggunakan Kutukan pembunuh Avada Kedavra terhadap Harry. Kutukan itu
berbalik menyerang Voldemort sendiri setelah Elder Wand menolak
membunuh tuannya (Harry) sendiri.
Dalam kisah di akhir buku, pada tahun 2017, 19 tahun setelah Pertempuran di Hogwarts, Harry dan Ginny Weasley
telah memiliki tiga anak bernama James, Albus Severus, dan Lily.
Neville Longbottom telah menjadi guru Herbologi di Hogwarts. Ron dan
Hermione telah memiliki dua anak bernama Rose dan Hugo. Draco Malfoy
memiliki anak bernama Scorpius. Mereka seluruhnya bertemu di stasius
kereta api King's Cross, untuk mengantar anak-anak mereka bersekolah ke
Hogwarts. Di sana diungkapkan bahwa bekas luka Harry tidak pernah sakit
lagi setelah kekalahan Pangeran Kegelapan.
Menunggu Allah :))
"jadi anak-anak, Allah itu ada di dekat kita. Allah bisa tahu apa saja yang kita kerjakan, jadi ingatlah apa yang hendak kita kerjakan karena Allah akan menghukum kita bila kita nakal dan Allah juga akan memberi kita hadiah apabila kita berbuat baik...", "hadiahnya apa bu?" tanya Irsyad tiba-tiba, maka ibu guru pun menjawab "hadiahnya dalah pahala, jadi bila Irsyad ingin mendapat pahala Irsyad tidak boleh menjahili teman-teman lagi".
Bel pulang pun berbunyi,semua anak-anak kelas 2 dengan segera membereskan barang-barang mereka, dan memasukkannya ke dalam tas. dalam perjalanan pulang, Irsyad terus memikirkan apa yang tadi ibu guru katakan. "mmmm...Allah itu ada dimana sih?, Allah itu laki-laki atau perempuan?" Irsyad bertanya dalam hati. Irsyad pun semakin penasaran dan segera saja berlari untuk bertanya kepada Ibunya tentang Allah. "Ummii...Ummii..." Irsyad pun memanggil Ibunya, tetapi sepertinya Ibunya tidak ada di rumah, "yah Ummi mana sih? di waktu penting gini ko gak ada?" segera Irsyad mengganti bajunya dan menunggu Ibunya di sofa. Sambil mengingat pelajaran tadi di sekolah. tapi tak lama kemudian ia pun tertidur saking lelahnya. "Irsyad...Irsyad bangun sudah waktunya ashar nak,," Irsyad pun terbangun dan melihat Ibunya sudah menatapnya. segera saja ia bangun dan mengambil air wudhu. lalu melaksanakan sholat.
Tanpa berdo'a ia langsung menuju pintu masuk rumah dan membukanya. Langsung saja ia duduk di teras depan rumahnya. "Allah pasti datang dan bawa hadiah untukku, aku kan baru saja sholat dan sholat itu kan pernuatan baik". Irsyad menunggu tapi mana Allah? segera saja ia berlari menuju pagar rumahnya. "hmm...Allah datang pakai apa ya? ah pasti Allah kaya banget jadi suka kasih hadiah". 1 jam Irsyad menunggu, lantas ia berlari ke dalam rumahnya "Allah pasti ada dikamar, tapi gimana Allah masuk? mending aku liat aja ah" betapa kecewanya Irsyad, ketika dilihatnya Allah tidak ada dimana-mana. Irsyad pun kesal, "mana Allah, aku kan udah sholat, aku juga gak jahil sama teman-teman ku tadi disekolah, tapi mana Allah?"
Irsyad pun marah, ia mengira ibu guru berbohong.
Keesokan harinya, Irsyad pergi kesekolah seperti biasa. Sesampainya di kelas ia melihat temannya sedang membersihkan papan tulis. "wah kesempatan nih, hmm ada kapur...", Irsyad lalu melempar kapur ke mua Rini, spontan Rini pun menangis karena kapur tersebut telah mengenai matanya. "Ah cengeng, masa cuma di lempar kapur aja nangis" ejek Irsyad, tapi Didi yang melihat kejadian tersebut berteriak sambil berkata "heh..Irsyad kamu gak ingat kalo kamu nakal lagi, Allah pasti ngasih hukuman, emang kamu mau di hukum sama Allah?" lalu Irsyad pun menjawab "Allah? gak takuut, itu bohong. Masa kemarin aku nungguin Allah, Allahnya gak dateng-dateng? padahal aku kan udan berbuat baik?". SEketika itu juga ibu guru masuk untuk memeriksa Rini yang bagian piket hari itu. Alangkah terkejutnya Beliau melihat Rini menangis. Tpai Ibu guru sudah tahu siapa pelakunya. Lalu Ibu guru pun berkata "Irsyad ayo ikut ibu kekantor sekarang! Didi, gantian kamu piket sekarang ya!" "iya bu.." Didi pin menjawab.
Sesampainya di kantor Ibu guru bertanya pada Irsyad dengan galak "kau apakan Rini Irsyad? kamu selalu saja jahil pada teman-temanmu!", Irsyad pun menjawab "Ibu guru juga bohong sama saya!". Ibu guru terkejut dan bingung mendengar apa yang Irsyad katakan. Sejenak kemarahannya terlupakan, lalu bertanya "apa maksudmu?" Irsyad pun berkata "dimana Allah bu? memangnya sedekat apa? kemarin saya menunggu tapi Allah tidak datang bawa hadiah seperti yang ibu bilang, padahal saya sudah berbuat baik?"
Mendengar penuturan Irsyad, Ibu guru pun tersenyum. Lalu berkata dengan lemah lembut "Irsyad, Allah memang dekat, Allah memang ada, tapi kita tidak bisa melihatnya, karena Allah adalah Dzat yang tidak terlihat. Tapi jika kita berbuat kebaikan, Allah pasti akan memberi pahala untuk tabungan kita di akhirat nanti. Jika kamu nakal dan selalu berbuat jahat, maka Allah pun akan memberi ganjaran-Nya. Allah bukan laki-laki ataupun perempuan, kalau kamu ingin tahu adanya Allah, kita lihat saja ciptaan-Nya. Siapa yang menciptakan bumi,matahari dan bulan serta tanaman-tanaman hiaju yang kita lihat? itulah ciptaan Allah" jadi Allah itu benar-benar ada bu?" tanya Irsyad "ya", "kapan kita biasa bertemu Allah bu?" ibu guru pun tersenyum sabar dan berkata "ada waktunya, hanya Allah yang tahu". "terus, tabungan kita?", "kita kumpulkan untuk waktunya bila telah tiba, bila pahala kebaikan kita banyak maka akan masuk surga, tapi bila kita selalu nakal dan jahat, nanti kita akan masuk neraka, kamu mau pilih yang mana?" "surga bu, tapi di surga ada apa saja?", lalu ibu guru pun menjawab "di surga ada kolam susu, ada makanan yanh enak-enak dan ada tempat bermain juga. Sebalinya neraka yang ada hanya api yang sangat panas, kamu mengerti kan Irsyad?" "iya bu, Irsyad janji gak akan nakal lagi dan akan berbuat baik supaya bisa masuk surga" jawab irsyad. Ibu guru pun tersenyum dan menyuruh Irsyad kembali ke kelas dan meminta maaf pada teman-temannya yang pernah ia jahati. Sejak saat itu Irsyad pun menjadi anak baik dan di sukai teman-temannya.
Bel pulang pun berbunyi,semua anak-anak kelas 2 dengan segera membereskan barang-barang mereka, dan memasukkannya ke dalam tas. dalam perjalanan pulang, Irsyad terus memikirkan apa yang tadi ibu guru katakan. "mmmm...Allah itu ada dimana sih?, Allah itu laki-laki atau perempuan?" Irsyad bertanya dalam hati. Irsyad pun semakin penasaran dan segera saja berlari untuk bertanya kepada Ibunya tentang Allah. "Ummii...Ummii..." Irsyad pun memanggil Ibunya, tetapi sepertinya Ibunya tidak ada di rumah, "yah Ummi mana sih? di waktu penting gini ko gak ada?" segera Irsyad mengganti bajunya dan menunggu Ibunya di sofa. Sambil mengingat pelajaran tadi di sekolah. tapi tak lama kemudian ia pun tertidur saking lelahnya. "Irsyad...Irsyad bangun sudah waktunya ashar nak,," Irsyad pun terbangun dan melihat Ibunya sudah menatapnya. segera saja ia bangun dan mengambil air wudhu. lalu melaksanakan sholat.
Tanpa berdo'a ia langsung menuju pintu masuk rumah dan membukanya. Langsung saja ia duduk di teras depan rumahnya. "Allah pasti datang dan bawa hadiah untukku, aku kan baru saja sholat dan sholat itu kan pernuatan baik". Irsyad menunggu tapi mana Allah? segera saja ia berlari menuju pagar rumahnya. "hmm...Allah datang pakai apa ya? ah pasti Allah kaya banget jadi suka kasih hadiah". 1 jam Irsyad menunggu, lantas ia berlari ke dalam rumahnya "Allah pasti ada dikamar, tapi gimana Allah masuk? mending aku liat aja ah" betapa kecewanya Irsyad, ketika dilihatnya Allah tidak ada dimana-mana. Irsyad pun kesal, "mana Allah, aku kan udah sholat, aku juga gak jahil sama teman-teman ku tadi disekolah, tapi mana Allah?"
Irsyad pun marah, ia mengira ibu guru berbohong.
Keesokan harinya, Irsyad pergi kesekolah seperti biasa. Sesampainya di kelas ia melihat temannya sedang membersihkan papan tulis. "wah kesempatan nih, hmm ada kapur...", Irsyad lalu melempar kapur ke mua Rini, spontan Rini pun menangis karena kapur tersebut telah mengenai matanya. "Ah cengeng, masa cuma di lempar kapur aja nangis" ejek Irsyad, tapi Didi yang melihat kejadian tersebut berteriak sambil berkata "heh..Irsyad kamu gak ingat kalo kamu nakal lagi, Allah pasti ngasih hukuman, emang kamu mau di hukum sama Allah?" lalu Irsyad pun menjawab "Allah? gak takuut, itu bohong. Masa kemarin aku nungguin Allah, Allahnya gak dateng-dateng? padahal aku kan udan berbuat baik?". SEketika itu juga ibu guru masuk untuk memeriksa Rini yang bagian piket hari itu. Alangkah terkejutnya Beliau melihat Rini menangis. Tpai Ibu guru sudah tahu siapa pelakunya. Lalu Ibu guru pun berkata "Irsyad ayo ikut ibu kekantor sekarang! Didi, gantian kamu piket sekarang ya!" "iya bu.." Didi pin menjawab.
Sesampainya di kantor Ibu guru bertanya pada Irsyad dengan galak "kau apakan Rini Irsyad? kamu selalu saja jahil pada teman-temanmu!", Irsyad pun menjawab "Ibu guru juga bohong sama saya!". Ibu guru terkejut dan bingung mendengar apa yang Irsyad katakan. Sejenak kemarahannya terlupakan, lalu bertanya "apa maksudmu?" Irsyad pun berkata "dimana Allah bu? memangnya sedekat apa? kemarin saya menunggu tapi Allah tidak datang bawa hadiah seperti yang ibu bilang, padahal saya sudah berbuat baik?"
Mendengar penuturan Irsyad, Ibu guru pun tersenyum. Lalu berkata dengan lemah lembut "Irsyad, Allah memang dekat, Allah memang ada, tapi kita tidak bisa melihatnya, karena Allah adalah Dzat yang tidak terlihat. Tapi jika kita berbuat kebaikan, Allah pasti akan memberi pahala untuk tabungan kita di akhirat nanti. Jika kamu nakal dan selalu berbuat jahat, maka Allah pun akan memberi ganjaran-Nya. Allah bukan laki-laki ataupun perempuan, kalau kamu ingin tahu adanya Allah, kita lihat saja ciptaan-Nya. Siapa yang menciptakan bumi,matahari dan bulan serta tanaman-tanaman hiaju yang kita lihat? itulah ciptaan Allah" jadi Allah itu benar-benar ada bu?" tanya Irsyad "ya", "kapan kita biasa bertemu Allah bu?" ibu guru pun tersenyum sabar dan berkata "ada waktunya, hanya Allah yang tahu". "terus, tabungan kita?", "kita kumpulkan untuk waktunya bila telah tiba, bila pahala kebaikan kita banyak maka akan masuk surga, tapi bila kita selalu nakal dan jahat, nanti kita akan masuk neraka, kamu mau pilih yang mana?" "surga bu, tapi di surga ada apa saja?", lalu ibu guru pun menjawab "di surga ada kolam susu, ada makanan yanh enak-enak dan ada tempat bermain juga. Sebalinya neraka yang ada hanya api yang sangat panas, kamu mengerti kan Irsyad?" "iya bu, Irsyad janji gak akan nakal lagi dan akan berbuat baik supaya bisa masuk surga" jawab irsyad. Ibu guru pun tersenyum dan menyuruh Irsyad kembali ke kelas dan meminta maaf pada teman-temannya yang pernah ia jahati. Sejak saat itu Irsyad pun menjadi anak baik dan di sukai teman-temannya.
Cinta Adalah Kejujuran
Pada awalnya memang indah ketika kita mengenal cinta, dunia terasa hanya milik kita sendiri namun kita suka lupa akan adanya seutas benang tipis perbedaan antara cinta dan benci dan antara kesetiaan dan penghianatan.
Semua itu sangatlah nyata dan terlihat jelas dimata para pecinta, namun kemudian sering terbutakan oleh buayan kata gombal cinta yang terselimuti tebal oleh segala kemunafikan cinta itu sendiri.
Cinta bukanlah kesetiaan
Cinta bukanlah kepercayaan
Cinta bukanlah pengorbanan
Cinta bukanlah pengabdian
Cinta bukanlah pemberian
Cinta bukanlah permintaan
Cinta bukanlah pengertian
Cinta bukanlah penempatan
Cinta bukanlah mendampingi
Cinta bukanlah melayani
Cinta bukanlah menemani
Cinta bukanlah …..bukanlah ……bukanlah……..
Jika kita mampu menyibak segala kemunafikan buayan gombal dari para pecinta maka kita akan mengerti dan sangat memahami bahwa sesungguhnya Cinta adalah Kejujuran……..
Selasa, 29 Juni 2010
komentar paijo
Paijo adalah seorang pesuruh di sebuah SMA swasta yang cukup terkenal. Suatu siang, Paijo melihat kerumunan puluhan murid dan beberapa guru di teras ruangan kelas pelajaran Fisika. Dari suara ributnya, mungkin ada kejadian luar biasa di situ. Paijo semula acuh tak acuh, namun akhirnya ia datang mendekat juga karena salah satu guru yang juga wakil kepala sekolah memanggilnya.
Setelah diusut, ternyata ada seorang siswa yang sehabis pelajaran olah raga menendang bola yang seharusnya dia bawa ke gudang. Sialnya bola tadi mengenai kaca jendela nako sampai hancur berantakan.
Dasar sekolah swasta yang sudah terbiasa berdemokrasi, tidak heran kalau guru-guru di situ memberikan komentar atas kejadian tadi. Lagi pula ini berhubungan dengan kurikulum baru yang berbasis kompetensi (KBK) di mana para siswa diharapkan tidak hanya tahu teori tapi juga harus tahu keadaan nyata dalam situasi apapun. Berikut ini adalah dialog dari beberapa guru yang ada di situ.
Wakil Kepala Sekolah: “Bagaimana pendapat atau komentar bapak-bapak guru tentang kejadian tadi ?”
Guru Fisika: “Gerakan bola tadi merupakan contoh dari gerak balistik atau gerak peluru.”
Guru Kimia: “Massa kaca sebelum dan sesudah pecah sama.”
Guru Matematika: “Lintasan bola tadi pasti merupakan kurva melengkung parabola.”
Wakil Kepala Sekolah: “Bagus sekali komentarnya. Bagaimana menurut pak Sugih?”
Pak Sugih yang guru ekonomi menjawab: “Untuk mengganti kaca yang pecah perlu biaya Rp 100.000 pak.”
Wakil Kepala Sekolah: “Itu tidak masalah, kita bisa minta ke orang tua siswa yang menendang bola tadi. Bagaimana menurut Pak Paijo ?”
Paijo kaget setengah mati karena tidak menyangka kalau akan dimintai pendapat atau komentar. Tapi untuk menjaga gengsi, lagi pula dia pernah ikut nguping waktu guru-guru ditatar KBK, Paijo memberikan komentar menurut disiplin ilmunya.
Paijo: “Kalau ditinjau dari disiplin ilmu saya pak, pecahan kaca tadi… eh… anu… menambah pekerjaan saya tapi tidak menaikkan gaji saya pak!”
Wakil Kepala Sekolah: “Pintar juga pak Paijo, ada musibah malah digunakan kesempatan untuk minta naik gaji.”
*paijo mata duitan* wkwkwk
Setelah diusut, ternyata ada seorang siswa yang sehabis pelajaran olah raga menendang bola yang seharusnya dia bawa ke gudang. Sialnya bola tadi mengenai kaca jendela nako sampai hancur berantakan.
Dasar sekolah swasta yang sudah terbiasa berdemokrasi, tidak heran kalau guru-guru di situ memberikan komentar atas kejadian tadi. Lagi pula ini berhubungan dengan kurikulum baru yang berbasis kompetensi (KBK) di mana para siswa diharapkan tidak hanya tahu teori tapi juga harus tahu keadaan nyata dalam situasi apapun. Berikut ini adalah dialog dari beberapa guru yang ada di situ.
Wakil Kepala Sekolah: “Bagaimana pendapat atau komentar bapak-bapak guru tentang kejadian tadi ?”
Guru Fisika: “Gerakan bola tadi merupakan contoh dari gerak balistik atau gerak peluru.”
Guru Kimia: “Massa kaca sebelum dan sesudah pecah sama.”
Guru Matematika: “Lintasan bola tadi pasti merupakan kurva melengkung parabola.”
Wakil Kepala Sekolah: “Bagus sekali komentarnya. Bagaimana menurut pak Sugih?”
Pak Sugih yang guru ekonomi menjawab: “Untuk mengganti kaca yang pecah perlu biaya Rp 100.000 pak.”
Wakil Kepala Sekolah: “Itu tidak masalah, kita bisa minta ke orang tua siswa yang menendang bola tadi. Bagaimana menurut Pak Paijo ?”
Paijo kaget setengah mati karena tidak menyangka kalau akan dimintai pendapat atau komentar. Tapi untuk menjaga gengsi, lagi pula dia pernah ikut nguping waktu guru-guru ditatar KBK, Paijo memberikan komentar menurut disiplin ilmunya.
Paijo: “Kalau ditinjau dari disiplin ilmu saya pak, pecahan kaca tadi… eh… anu… menambah pekerjaan saya tapi tidak menaikkan gaji saya pak!”
Wakil Kepala Sekolah: “Pintar juga pak Paijo, ada musibah malah digunakan kesempatan untuk minta naik gaji.”
*paijo mata duitan* wkwkwk
Anak Yatim
Faqih: Eh… Bet! Mana kalimat yang benar?
A. Anak Yatim itu dipukuli ayahnya.
B. Anak yatim itu dipukulkan ayahnya.
Albert: Pasti . . . Anak yatim itu dipukuli ayahnya dong!!!
Faqih: Salah.
Albert: Apaan dong!!!
Faqih: Nggak ada yang bener, anak yatim mana punya ayah…
Albert: @#$%#@
Zzzzzzzzzzzz @,@
A. Anak Yatim itu dipukuli ayahnya.
B. Anak yatim itu dipukulkan ayahnya.
Albert: Pasti . . . Anak yatim itu dipukuli ayahnya dong!!!
Faqih: Salah.
Albert: Apaan dong!!!
Faqih: Nggak ada yang bener, anak yatim mana punya ayah…
Albert: @#$%#@
Zzzzzzzzzzzz @,@
Dancing Elf

‘’Hi,Albus”sapa xiao yu.
“Hi. Aku sudah menduga akan bertemu dgn mu disini. Mom bolehkah?”tanya Albus. “Oh tentu saja Albus, jangan jauh2 dan siapkan tongkat mu “. Albus meraba kedalam jubahnya,dan untunglah hari ini dia tidak lupa membawa tongkat.
“Ok,ready to go” kata Albus sambil menggandeng tangan xiao yu. Mereka menyusuri jalan Diagon Alley yg becek dan berlumpur krn hujan. Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah kedeai yg di atas pintu masuk terdapat plakat lusuh dengan tulisan besar-besar “ Dancing Elf “.
Albus mengambil tempat duduk dipojok.”Ok,mungkin kita harus segera memesan sesuatu sebelum mr Red Horn menendang kita keluar ’’ kata Albus yg disambut senyum oleh Xiao yu. Saat Xiao Yu asik memilih menu mata Albus terpaku pada sosok tua berjenggot yg duduk tidak jauh dari tempatnya.
“Albus apakah kau tau apa itu Bourbon Sling?” Tanya Xiao yu.
“Er no idea…tapi kelihatanya enak” jawab Albus sekenanya sambil matanya terus tertuju pada sosok di sebelahnya.
15 menit kemudian minuman yg dipesan datang, dan tahulah mereka berdua apa itu Baurbon Sling. Minuman ini berwarna merah kecoklatan dan baunya mempunyai keharuman yg khas, mengingatkan si pencium tentang suatu tempat yg tidak pernah tersentuh musim dingin. Suatu tempat yg kaya dengan aroma musim semi.
Albus duduk merapat disebelah Xiao yu , mata mereka beradu dan ada kedamaian terpancar dari mata Xiao yu. “ Albus maukah kau berjanji pada ku satu hal ?” Tanya Xiao yu tiba-tiba. “ Er..ok “ jawab Albus.
“Berjanjilah kau akan selalu berdiri berseberangan dengan evil apapun yg terjadi, dan Albus jangan pernah berhenti mencintai ku “. Mendengar ini Albus perlu beberapa waktu untuk mencerna arti kata-kata Xiao yu namun sebelum otaknya pulih dari shock, Albus menangkap dengan sudut matanya cahaya merah berpendar di tembok sebelah kanan dan seper sekian detik kemudian tembok itu meledak.
Albus terlempar ke kiri, meja-meja terbalik dan tiba-tiba beberapa sosok hitam secara bersamaan berkata AVADA KEDAVRA . suara meraung memenuhi udara dan sinar hijau berkelebat kemana-mana. Albus meraih tongkatnya, sosok tua yg tadi duduk disebelah Albus sudah bangkit dan mulai betempur dengan sosok-sosok hitam penyihir yg tetap menghujani ruangan dengan berbagai kutukan.
Albus menoleh kekiri dan dia mendapati horror terbesar dalam hidupnya, sesosok tubuh cantik tergeletak dengan mata terbuka bahkan expresi kaget masih tersirat di wajahnya yg cantik. Linglung dengan apa yg terjadi Albus meraba pergelangan tangan si gadis, dan Albus mendapati pergelangan tangan yg dingin dan sudah ditinggakan denyut-denyut kehidupan.
Amarah memuncak dalam diri Albus darahnya serasa mendidih …ZIZAM ARMANTE…seberkas cahaya keemasan keluar dari tongkatnya dan menghantam sosok penyihir yg sedang melancarkan kutukan ke pada sosok tua yg sekarang terlihat terdesak. Si penyihir langsung terlempar menabrak temannya . Albus berdiri dan mengarahkan tongkatnya kelantai…AMONDEUS….lantai kedai tempat sosok penyihir hitam berdiri tiba-tiba bergerak menggulung para penyihir yg berdiri diatasnya sebelum kemudian meledak dengan kobaran api besar.
Tiba-tiba terdengar bunyi serentetan letusan dan sosok-sosok penyihir hitam serta si penyihir tua hilang begitu saja . Albus bersimpuh di sebelah tubuh Xiao yu,hatinya menjerit menolak apa yg sudah terjadi. Amarah, penyesalan dan rasa benci akan apa yg sudah terjadi memenuhi dadanya. Tak terasa air mata meleleh membasahi pipinya, kenangan-kenangan bersama Xiao yu berkelebatan di otaknya membuatnya semakin sulit membendung air mata.
----Gringotts----

Masuklah, orang asing, tetapi behati-hatilah
Terhadap dosa yang harus ditanggung orang serakah
Karena mereka yang mengambil apa saja yang bukan haknya,
Harus membayar semahal-mahalnya,
Jadi jika kau mencari di bawah lantai kami
Harta yang tak berhak kaumiliki,
Pencuri, kau telah diperingatkan,
Bukan harta yang kaudapat, melainkan ganjaran.
"terukir di atas pintu perak,yang menjadi pintu masuk Gringotts"
berbagi *beautiful dream and i wished that would be real* :))

seperti biasa pulang kerja jam 6 sore..uhm bingung mau ngapain akhirnya saya dan suami pulang ke rumah tanpa mampir ke mana pun,,eh iya sebelumnya kita beli pecel lele *karena ga sempet masak* XD
nyampe di rumah langsung sholat maghrib..pas banget adzan maghrib...abis itu makan,noton,sholat isya.....
hoaaaammm waktu menunjukkan jam 19.30 tik..tok...
kita masuk terus nonton tv lagi..ga kerasa mata udah kerasa berat,,,akupun ngucapin *met tidur* sama suami..and then tidurlah saya......
saya pun bermimpi...awalnya mimpi nya ga masuk akal..berbelit belit...
saya mimpi bertemu teman2 sma dan apa lagi ya??saya ga ingat...
tiba2 dalam mimpi itu saya duduk si sebuah sofa *dirumah* saya lihat perut saya besar..ya saya sedang hamil dalam mimpi itu...
saya senang sekali..sungguh saya menangis saking terharunya...
lalu kalian tau apa yang terjadi?tibalah waktu saya melahirkan..WAW MELAHIRKAN saya MELAHIRKAN anak KEMBAR...
ga tanggung2 2 kembar perempuan dan 2 kembar laki2..totalnya 4!!!
saya pun menjadi seorang ibu..ahh itu lah mimpi saya yang paling indah..
saya fikir itu nyata,,saat terbangun saya sadar itu hanya mimpi dan sungguh saya sangat berharap itu terjadi...
saat tebangun saya mengucapkan AMIN semoga mimpi itu menjadi nyata :))
Harry Potter and the Goblet of Fire: The Hungarian Horntail
just like the dragon..wanna have one in my home XD
RiffTrax - Harry Potter and the Prisoner of Azkaban sample
i wanna laugh when i looked draco *check this*
Harry Potter and the Chamber of Secrets Trailer
i love this movie..when harry be a hero for ginny weasley..and the loves had been seen from her eyes *pink* XD
Harry Potter and the Sorcerer's Stone Trailer
haha..harry looks so little than hagrid *haunts him* :))
silly bout u......
uhm...p****t saya panas...berjam jam saya duduk di depan pc...and who knows sebenarnya saya sedang membuat blog baru *blog lama ga keurus*
uhm...well saya ga ngerti kenapa saya bisa duduk disini hanya bertemankan banku dan seperangkat komputer ini,,tanpa menyalakan musik *mendengarkan maksudnya*,,tanpa mendownload apapun seperti orang lain *payah*
inilah kebiasaan saya,,hanya *duduk manis* depan layar sambil garuk2 kepala..karena kamu tau??sebenernya saya nulis apaan sih??daritadi ngelantur ga jelas -___-'
ok back to a topic,,,saya ini *stupid* *crazy* *unique* (hoeeeek yang terakhir fitnah),,,first what im so stupid?karena aneh aja saya menyukai *freak malah* sama cerita2 dan tokoh2 fikitif *guess who* :))
ya sebagian teman saya bilang saya BODOH but i dont care..i dont disturb them..haha ya this is so funny but im not stupid guys!!!!
the second and the third yah u know im crazy bout u HARRY POTTER i can tell u why im really freak about them...tapi yaaaaa itulah saya...
kalo kamu menganggap saya gila yaaa gapapa,,,yang jelas oh i have to go..see yaaaaaaa XD
*gubrak*
uhm...well saya ga ngerti kenapa saya bisa duduk disini hanya bertemankan banku dan seperangkat komputer ini,,tanpa menyalakan musik *mendengarkan maksudnya*,,tanpa mendownload apapun seperti orang lain *payah*
inilah kebiasaan saya,,hanya *duduk manis* depan layar sambil garuk2 kepala..karena kamu tau??sebenernya saya nulis apaan sih??daritadi ngelantur ga jelas -___-'
ok back to a topic,,,saya ini *stupid* *crazy* *unique* (hoeeeek yang terakhir fitnah),,,first what im so stupid?karena aneh aja saya menyukai *freak malah* sama cerita2 dan tokoh2 fikitif *guess who* :))
ya sebagian teman saya bilang saya BODOH but i dont care..i dont disturb them..haha ya this is so funny but im not stupid guys!!!!
the second and the third yah u know im crazy bout u HARRY POTTER i can tell u why im really freak about them...tapi yaaaaa itulah saya...
kalo kamu menganggap saya gila yaaa gapapa,,,yang jelas oh i have to go..see yaaaaaaa XD
*gubrak*

nama-nama guru dan murid Hogwarts *welcome to magic*
- 1 Gryffindor
- 2 Ravenclaw
- 3 Hufflepuff
- 4 Slytherin
- 5 Murid Hogwarts Yang Tidak Diketahui Berada Di Asrama Mana
- 6 Murid Murid Lain Yang Disebutkan Dalam Catatan J.K Rowling
- 7 Murid-Murid Hogwarts Di Masa Lalu
- 8 Murid Dari Sekolah Sihir Lain
- 9 Guru-Guru dan Staf Hogwarts
- 10 Para Hantu
- 11 Lukisan
- 12 Orde Phoenix
- 13 Penyihir Hitam
- 14 Kementrian Sihir
- 15 Orang-Orang Yang Berhubungan Dengan Quidditch
- 16 Penyihir Terkenal
- 17 Keluarga Dekat Dari Karakter Utama
- 18 Penyihir yang Lain
- 19 Karakter Lain
- 20 Peri Rumah
- 21 Goblin
- 22 Hewan Peliharaan dan Makhluk Sihir Lainnya
Gryffindor
- Empat Tokoh Sentral
- Satu Angkatan Dengan Harry
- 1 Tahun Di Atas Harry
- 2 Tahun Di Atas Harry
- Fred dan George Weasley
- Lee Jordan
- Angelina Johnson
- Alicia Spinnet
- Kenneth Towler (teman sekamar Fred, George, dan Lee; salah satu korban lelucon mereka)
- Patricia Stimpson
- 4 Tahun Di Atas Harry
- 1 Tahun Di Bawah Harry
- 2 Tahun Di Bawah Harry
- 3 Tahun Di Bawah Harry
- Dennis Creevey
- Jimmy Peakes
- Natalie McDonald (topi seleksi)
- 4 Tahun Di Bawah Harry
- Euan Abercrombie (topi seleksi)
- Tahun Masuk Tidak Diketahui
- Ritchie Coote
- Andrew Kirke
- Demelza Robins
- Jack Sloper
- Vicky Frobisher (Ikut uji coba Quidditch di buku kelima)
- Geoffrey Hooper (Ikut uji coba Quidditch di buku kelima)
Ravenclaw
- Satu Angkatan Dengan Harry
- Anak Ravenclaw yang Lebih Tua Dari Harry
- Anak Ravenclaw Yang Lebih Muda Dari Harry
- Anak Ravenclaw Yang Tahun Masuknya Tidak Diketahui
Hufflepuff
- Anak Hufflepuff Yang Satu Angkatan Dengan Harry
- Anak Hufflepuff Yang Lebih Tua Dari Harry
- Cedric Diggory (terbunuh di tahun 1995)
- Anak Hufflepuff Yang Lebih Muda Dari Harry
- Anak Hufflepuff Yang Tahun Masuknya Tidak Diketahui
Slytherin
- Satu Angkatan Dengan Harry
- Anak Slytherin Yang Lebih Tua Dari Harry
- Anak Slytherin Yang Lebih Muda Dari Harry
- Anak Slytherin Yang Umurnya Tidak Diketahui
Murid Hogwarts Yang Tidak Diketahui Berada Di Asrama Mana
- Satu Angkatan Dengan Harry
- Moon (Diketahui dari Topi Seleksi)
- Sally-Anne Perks (Diketahui dari Topi Seleksi)
- Nott (Diketahui dari Topi Seleksi)
- Tidak Satu Angkatan Dengan Harry
- Derek (seorang anak kelas satu yang menghadiri pesta natal di saat Harry kelas tiga, yang ditawari chipola oleh Dumbledore)
- Harold Dingle
- Emma Dobbs (Diketahui dari Topi Seleksi)
- Patricia Stimpson (Satu angkatan dengan Fred dan George)
- Tidak Diketahui Umurnya
- Eloise Midgen (murid yang memiliki masalah jerawat yang gawat, beberapa kali disebutkan dalam percakapan, tapi tidak pernah benar-benar diperlihatkan)
- Leanne (teman Katie Bell)
(if you need u will find this here)
Langganan:
Komentar (Atom)



